Selasa, 13 Februari 2018

SISTEM KERJA BATIK SEKAR KEDHATON

Proses Produksi
Proses produksi pembuatan batik dimulai dengan menyiapkan peralatan dan perlengkapan. 
Setelah itu membuat motif atau pola batik pada kain. Lalu proses membatik dapat dimulai dengan menggunakan canting yang telah dicelupkan pada malam (lilin) yang sudah dicairkan dan disaring. Setelah selesai proses membatik tahapan selanjutnya adalah pewarnaan. Setelah proses pewarnaan kain direbus pada air mendidih untuk menghilangkan malam. Kemudian kain dicuci bersih lalu dijemur. Setelah di jemur, kain batik yang sudah jadi dikemas. Dalam proses pengemasan, tidak ada label yang menandakan bahwa produk batik yang dikemas merupakan produk batik dari Sekar Kedhaton.

Peralatan Produksi
Peralatan-peralatan yang digunakan untuk proses produksi antara lain: canting, wajan, kompor, gawangan, saringan malam, dhingkllik (tempat duduk), bak celup, timbangan, dan taplak. Di KUB Batik Sekar Kedhaton terdapat peralatan produksi yang sudah tua dan rusak. Adapun peralatan yang perlu diganti adalah gawangan dan timbangan. Timbangan yang dibutuhkan untuk proses produksi adalah timbangan analitik. Timbangan ini dibutuhkan untuk menakar pewarna yang digunakan untuk pewarnaan batik supaya takarannya tepat. Kondisi gawangan dan timbangan analitik yang rusak akan menghambat jalannya proses produksi.

 Sistem Produksi
Sistem produksi di KUB Batik Sekar Kedhaton menggunakan sistem produksi berdasarkan pesanan dari konsumen. Setiap anggota mengerjakan pesanan yang didapat dengan sistem borongan, dimana setiap anggota menyelesaikan pesanan per lembar batik.
Dengan adanya sistem produksi berdasarkan pesanan, bukan berarti pengrajin tidak melakukan kegiatan produksi. Apabila tidak ada pesanan dari konsumen, pengrajin tetap melakukan produksi batik di rumah masing-masing (bukan di sanggar Batik Sekar Kedhaton) agar tidak membebani pengrajin yang usianya sudah lanjut. 

Kamis, 28 September 2017

Buku Panduan Belajar Batik Tulis

#buku panduan ini membahas tentang teori dan alat serta bahan batik dan teori tentang pewarnaan baik sintetis maupun pewarnaan alami.
Sangat praktis dan mudah difahami bagi pemula.
Bagi anda yang ingin memperdalam batik, atau yang ingin kursus/batik silahkan menggunakan buku ini sebagai panduannya.
Info lebih lanjut via email: batik_sk@yahoo.co.id atau WA. 081328628227

Rabu, 09 Maret 2016

Pembatik adalah "Guru"

Info ini semoga menjadi kabar membangun, bukan sekedar dikatakan iklan urusan perut (karena saya melihat posting itu secara serentak dan bukan alasan untuk iklan ketika menulis ini). Ini patut di contoh, semangat mereka membangun dari keterbatasannya adalah acungan jempol sudah mau untuk bangkit. Kalau dulu kita sering bilang, mbatik itu kerja sampingan, ya karena aktifitas pembatikan pada masyarakat dahulu tidak seperti sekarang ini, berlimpah ruah. Pesanan batik pada zamannya mbah buyut kita di pelosok tidak bisa kita bayangkan seperti perusahan-perusahaan batik di masa lalu yang punya banyak stok, karena mereka kebanyak sekedar buruh lepas (ada banyak versi tentang ini; bisa karena tidak mau jadi buruh tetap, terlalu jauh dari kota, atau pendidikannya yang kurang memadai untuk melihat potensi produksi itu).

Pada saat ini, pembatik2 di pelosok tersebut sekarang sudah agak berbeda, tentu saja karena perkembangan dan kemajuan pola fikir-teknologi manusia yang terus bersemangat.teringat sayamenginjakkan kaki pertama kali di Giriloyo tahun 2007, ketika melanjutkan pemberdayaan masyarakat bersama teman-teman nurudholam dan santri pondok Krapyak. Bersama masyarakat membuat berbagai program, salah satunya dalam rangka membangun pemahaman dan pengamalan dan peluang pendidikan. di dalam batik saya arahkan mereka bahwa para pembatik itu bukan sekedar buruh/seniman batik, namun mereka para "Pembatik adalah Guru". kenapa saya katakan begitu, karena di dalam batik terdapat berbagai nilai2 kearifan, baik itu tersurat maupun tersirat, baik itu dalam motif-pembuatan batik-pengunaan batik dan tentu saja falsafahnya. Para pembatik adalah ia yang menjadikan lembaran kain putih itu menjadi bermotif dan berguna bagi kita semua, baik sebagai sandang ataupun sebagai buku ajar pranata sosial.

Persepsi guru pada pada para pembatik saya akomodir dalam model pelatihan batik diberbagai tempat, saya ajak mereka menjadi tentor/pelatih/guru/dosen dan sejenisnya yang memberikan penerangan-pengajaran-dan contoh tauladan (ilmu lan ngilmu) pada masing2 kelasnya, karena sy merasakan mereka dapat menjadi panutan bangsa. Bagimana tidak bisa menjadi tauladan, berapa sih penghasilan para pembatik, jika di bandingkan dengan para pengusaha batik dari 1 lembar kain. 

Dari banyak kenyataan (kecuali buruh pabrik batik) para pembatik di pelosok apakah banyak dari mereka berontak dengan minimnya hasil yang mereka dapat?..yang terjadi justru mereka terima dengan ikhlas, bagi pembatik mereka anggap ini batasan rejeki baginya…nrimo ing pandum-urip sak madyo mungkin itu yang membekas pada mereka sebagai masyakarat yg bisa di katagorikan masyarakat sub-sistem.Pada soal pendidikan dan pelatihan batik, sudah sipelatih adalah orang2 yang memang mumpuni pada bidang batik. Selayaknya sudah pasti para pembatik ini mampu mengetahui tugas itu semua, paling jika ditelusuri kekurangnya adalah pada bahasa- komunikasi. Saat ini Giriloyo telah menampakkan dirinya, selain sebagai pembatik yang memperoduksi berbagai jenis motif(tradisional-modern), mereka juga menjadi Guru walautanpa ijazah. Sukses selalu untuk Guru Batik Giriloyo, maju terus memberikan penerangan ilmu batik. Semoga tidak terjebak pada ekonomi pendidikan. Maju batik kita, maju kemanusiaan kita.
Iklan Gratis - Pasang Iklan Baris Tanpa Daftar Gratis Langsung Tayang!
Gurah

Entri Populer